by

Bakteri Difteri: Faktor Risiko, Penyebab dan Gejala yang Perlu Anda Ketahui

Pengertian Difteri:

Bakteri Difteri adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae, yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Penyebaran dan penyebaran difteri sendiri bisa melalui partikel di udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang terkontaminasi, serta menyentuh luka yang terinfeksi kuman difteri.

Faktor Risiko Difteri:

Berbagai faktor risiko difteri, antara lain:

  • Anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang tua di atas usia 60 tahun;
  • Belum mendapatkan vaksinasi difteri;
  • Berkunjung ke daerah dengan cakupan imunisasi difteri yang rendah;
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS;
  • Gaya hidup yang tidak sehat; dan
  • Lingkungan dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk.

Penyebab Difteri:

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae, yang dapat menular melalui partikel di udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang terkontaminasi, serta menyentuh luka yang terinfeksi kuman difteri. Bakteri difteri juga bisa saja menular melalui air liur seseorang. Contoh penularan tersebut adalah berbagi makanan atau minuman kepada orang yang terjangkit difteri atau melakukan kontak fisik yang melibatkan air liur, dengan pengidap penyakit difteri.

Gejala Difteri:

Umumnya, gejala penyakit bakteri difteri ini akan muncul sekitar 2–5 hari sejak seseorang dinyatakan terinfeksi kuman penyebab bakteri difteri tersebut. Berikut ini beberapa gejala yang muncul, yaitu:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan tenggorokan;
  • Demam dan menggigil;
  • Nyeri tenggorokan dan suara serak;
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat;
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher;
  • Lemas dan lelah;
  • Pilek yang awalnya cair, tetapi dapat sampai bercampur darah;
  • Batuk yang keras;
  • Rasa tidak nyaman;
  • Gangguan penglihatan;
  • Bicara melantur; dan
  • Tanda-tanda syok, seperti kulit yang pucat dan dingin, berkeringat, dan jantung berdebar cepat.

Diagnosis Difteri:

Dokter akan mendiagnosis difteri dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik untuk melihat lapisan abu-abu di tonsil atau di tenggorokan serta pembesaran kelenjar getah bening pada leher, dan pemeriksaan penunjang dengan memeriksakan sampel jaringan di laboratorium untuk memastikan diagnosis.

Komplikasi Difteri:

Beberapa komplikasi difteri yang dapat terjadi, antara lain:

  • Saluran napas tertutup;
  • Kerusakan otot jantung (miokarditis);
  • Kerusakan saraf (polineuropati);
  • Kehilangan kemampuan bergerak (lumpuh);
  • Infeksi paru-paru (pneumonia hingga gagal napas); dan
  • Difteri hipertoksik yang memicu pendarahan dan gagal ginjal.

Pengobatan Difteri:

Beberapa langkah pengobatan yang akan dilakukan dokter, antara lain:

  • Pemberian antitoksin, untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri. Karena tidak semua orang di dalam tubuhnya bisa menerima antitoksin, maka dokter pastinya akan memberi antitoksin dengan dosis yang rendah dan meningkatkan dosis antioksidannya secara bertahap. Hal tersebut akan dilakukan bila seseorang penderita bakteri difteri memiliki alergi terhadap antitoksin.
  • Pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi di bawah pengawasan dokter.
  • Anjuran pemberian booster vaksin difteri setelah pengidap kembali sehat, untuk membangun pertahanan terhadap difteri.

Pencegahan Difteri

Berbagai upaya untuk mencegah difteri, antara lain:

  • Vaksinasi difteri yang diberikan lewat imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis) sebanyak lima kali saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4–6 tahun.
  • Vaksinasi difteri yang diberikan lewat imunisasi Td atau Tdap untuk anak usia di atas 7 tahun dan harus diulang setiap 10 tahun sekali, termasuk untuk orang dewasa.

Comment

News Feed